Pada hari Rabu, 27 Agustus 2025, siswa kelas 5 mengikuti kegiatan Nonton Bareng film berjudul “Cyberbullying” sebagai bagian dari program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Kegiatan diawali dengan sambutan dan arahan dari Bapak Kepala Sekolah, Sentot Hariyanto, S. Psi.Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang pentingnya bersikap bijak dalam menggunakan media sosial. Melalui alur cerita film, siswa diajak untuk menyadari bahaya tindakan cyberbullying, memahami dampak negatifnya, serta belajar bertanggung jawab dalam setiap aktivitas dunia maya.

Film Cyberbullying (2025) merupakan film Indonesia terbaru yang bercerita tentang seorang siswi SMP bernama Neira. Ia dikenal sebagai siswa teladan di sekolah, memiliki prestasi, serta citra yang baik di mata teman-temannya. Namun, kehidupannya berubah ketika sebuah video pertengkaran dengan temannya tersebar luas di media sosial. Video tersebut memicu perundungan di dunia maya, atau yang dikenal sebagai cyberbullying.

Akibatnya, Neira mengalami tekanan psikologis yang berat. Ia merasa malu, kehilangan rasa percaya diri, dan terpuruk karena komentar negatif yang terus berdatangan. Untuk memulihkan kondisi, keluarganya memutuskan agar Neira tinggal sementara bersama kakeknya. Di lingkungan baru itu, Neira perlahan menemukan kembali semangat hidup dengan mengikuti kegiatan positif seperti membangun taman baca dan membantu anak-anak kurang mampu berlatih Spelling Bee. Hingga akhirnya, Neira berani kembali ke sekolah lamanya dan membuktikan bahwa ia mampu bangkit dari masa sulit yang pernah dialami.

Melalui pemutaran film ini, siswa kelas 5 diajak memahami beberapa hal penting:

  1. Bahaya cyberbullying – bagaimana perundungan di media sosial bisa merusak perasaan, kepercayaan diri, bahkan semangat hidup seseorang.

  2. Bijak bermedia sosial – berpikir sebelum mengunggah, tidak mudah ikut menyebarkan konten negatif, serta selalu menjaga sikap sopan di dunia maya.

  3. Tanggung jawab digital – setiap orang memiliki kewajiban menjaga jejak digitalnya agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.

  4. Etika berkomunikasi – meski tidak bertatap muka, tutur kata di internet tetap harus mencerminkan sopan santun dan menghargai orang lain.

  5. Empati dan solidaritas – ketika melihat teman mengalami perundungan, penting untuk memberi dukungan, bukan malah ikut menambah luka.

Selama kegiatan nobar berlangsung, siswa tampak antusias menyimak alur cerita. Beberapa siswa bahkan terlihat terharu saat menyaksikan perjuangan Neira menghadapi tekanan akibat perundungan. Setelah film selesai, guru mengajak siswa untuk berdiskusi dan menyampaikan pendapat masing-masing tentang pesan moral yang mereka peroleh. Banyak siswa berkomitmen untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial serta berjanji akan selalu bersikap ramah terhadap teman-teman mereka, baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Kegiatan nobar ini tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga sarat nilai pendidikan karakter. Melalui film Cyberbullying 2025, siswa belajar tentang arti penting menjaga diri, menghargai orang lain, serta kekuatan untuk bangkit dari kesulitan. Dengan semangat PPK, diharapkan siswa SDN Kauman 1 mampu menjadi generasi yang cerdas, berkarakter kuat, serta siap menghadapi tantangan di era digital dengan sikap yang bijak dan penuh tanggung jawab.